STOCKHOLM, KOMPAS.com – Nobel Kimia 2010 yang diumumkan Rabu (6/10/2010) diberikan kepada tiga orang ilmuwan yang menemukan teknik merangkai atom-atom karbon yang disebut palladium-catalyzed cross coupling. Masing-masing bisa dikatakan lansia karena usianya yakni Richard Heck (79) dari AS, serta Ei-chi Negishi (75) dan Akira Suzuki (80) dari Jepang.

Ketiganya dianggap berjasa karena teknik temuannya merupakan salah satu metode terbaik yang banyak dipakai di berbagai industri saat ini dan masa depan. Pengikatan atom karbon banyak digunakan dari pembuatan obat hingga pembuatan layar komputer.

“Teknik tersebut memungkinkan para ahli kimia mengikat atom karbon, suatu tahapan kunci dalam proses pembuatan molekul-molekul kopleks. Metode mereka sekarang digunakan di dunia untuk produksi farmasi secara komersil, termasuk potenisnya untuk pembuatan obat kanker, dan molekul untuk membuat piranti elektronik,” demikian pernyataan resmi yang dirilis Royal Academy Swedish of Sciences.

Terobosan tersebut tidak kalah tuanya dengan usia para ilmuwan tersebut karena sudah ditemukan sejak empat dekade lalu karena riset mereka sudah dimulai di taun 1960-an. Metode yang dikembangkan ketiga ilmuwan berhasil meniru molekul pembunuh kanker yang secara alami ditemukan pada spons di laut. Mereka juga mengembangkan antibiotik yang melawan bakteri resisten dan sejumlah obat komersial antara lain anti-infalamasi naproxen.

“Kalau dihitung tidak kurang dari 25 persen reaksi kimia di industri farmasi saat ini menggunakan metode mereka,” ujar Claes Gustafsson, salah satu anggota komite Nobel. Teknik tersebut juga digunakan industri elektronika untuk membuat LED yang kini menjadi komponen pilihan untuk layar tipis.

Heck yang merupakan professor emeritius dari University of Delaware kini tinggadl di Filipina. Negishi merupakan profesor kimia di Purdue University dan Suzukui profesor dari Hokkaido University. Mereka akan berbagi hadiah sebesar 10 juta Kronor atau sekitar Rp 14 miliar.