Kadar gula darah yang tinggi secara terus menerus selama bertahun-tahun dapat menimbulkan komplikasi. Salah satunya pada mata yang disebut dengan retinopati diabetik yang merupakan penyebab utama kebutaan pada penderita diabetes.

Penelitian menunjukkan, di Amerika satu dari 3 penderita diabetes mengalaminya dan hanya empat persen saja yang bisa disembuhkan. Demikian menurut studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association.

Memang belum ada data yang pasti di Indonesia, namun WHO tahun 2004 melaporkan ada 4,8 persen penduduk di seluruh duni ayang menjadi buta akibat retinopati diabetik.

Retinopati diabetik menyebabkan perubahan pembuluh darah di mata. Pada sebagian kasus, terjadi pertumbuhan pembuluh darah baru dan abnormal. Pembuluh darah baru ini bersifat rapuh dan mudah pecah sehingga sewaktu-waktu dapat berdarah ke dalam badan kaca yang mengisi rongga mata. Akibatnya penglihatan mendadak terhalang.

Prinsip utama dalam menangani retinopati diabetik adalah pengendalian gula darah, tekanan darah serta kadar kolesterol. Kabar baiknya, mereka yang sudah terlanjur mengalami tanda retinopati diabetik bisa dibantu dengan bedah laser.

“Bila Anda menderita diabetes, selalu monitor kadar gula darah dan lakukan pemeriksaan mata secara berkala. Bila masalah diketahui sejak dini, perburukannya masih bisa dicegah,” kata Dr.Xinzhi Zhang, dari Center for Disease Control and Prevention AS.

Para penderita diabetes tipe 2 juga disarankan untuk langsung memeriksakan matanya begitu didiagnosa menderita diabetes karena sulit mengetahui sejak kapan seseorang sudah mengidap diabetes. Selanjutnya, pemeriksaan mata hendaknya dilakukan berkala setiap tahun.

Sementara itu orang yang menderita diabetes tipe 1 (umumnya anak-anak dan remaja) mungkin tidak harus langsung memeriksakan matanya namun tetap diperlukan pemeriksaan rutin setelahnya.